Panggung tari, yang dahulu sering kali diidentikkan dengan keanggunan perempuan, kini telah mengalami pergeseran makna yang luar biasa. Di antara para penari pria yang mendobrak stereotip, nama Eko Supriyanto muncul sebagai salah satu yang paling berpengaruh. Dari panggung lokal di Magelang hingga panggung dunia bersama diva pop Madonna, perjalanan Eko adalah kisah tentang bagaimana tradisi dan modernitas dapat menyatu dengan harmonis. Ia tidak hanya membawa gerakan tari, tetapi juga semangat budaya Indonesia yang kaya, membuktikan bahwa identitas autentik adalah kekuatan terbesar di panggung global.
Panggung Dunia Eko Suprianto - Eko Supriyanto adalah seniman tari kontemporer Indonesia. Namanya dikenal ketika pada tahun 2001 berhasil menjadi penari latar diva pop dunia, Madonna,dalam tur keliling dunia. Eko berhasil mengalahkan ribuan orang yang mengikutiaudisi di Amerika Serikat. Pada tahun 2018, Eko menjadi koreografer tarianpembuka ASEAN Games di Jakarta. Berikut adalah cuplikan wawancara EkoSupriyanto dengan wartawan Beritagar.id.
Bagaimana awal ketertarikan Mas Eko untuk menari?
Tadinya sih dipaksa bapak dan ibu untuk ikut menari bersama kakek. Setelah kakek meninggal, saya diberi les privat di tempat Pak Paijan. Kemudian dari PakPaijan, saya beralih ke Pak Pahari di Karang Lor. Beliau salah satu tokoh tari jugayang ada di Magelang.
Setelah itu, ketika masuk SMEA saya setengah berhenti menari karena maludibilang seperti cah wedok (anak perempuan) kalau menari. Tapi, di kelas tiga saya harus memilih antara bermain voli atau menari lagi. Akhirnya saya bertemudengan tari lagi. Waktu itu saya bertemu dengan Bu Hartik, istri Pak Paijan yang mengajar di SMEA. Dari mereka, saya bertemu dengan Pak Alit Maryono, seorang tokoh tari di Magelang juga. Akhirnya saya mendapat motivasi dari PakAlit dan guru-guru sebelumnya.
Kita mendirikan sanggar tari di Magelang, namanya Sanggar Pitaloka. Sanggar ini tidak hanya melestarikan tapi juga mengajarkan regenerasi tarian-tarian tradisi kita seperti gaya Surakarta, gaya Yogya, maupun gaya-gaya Pak Bagong. Mereka yang menari adalah anak-anak SD, SMP, dan SMA. Dari situlah cikal bakal saya memutuskan untuk terus di tari. Akhirnya saya ambil kuliah di STSI Solo yang sekarang sudah menjadi ISI.
Apa yang membuat Mas Eko yakin dengan pilihan berkarier sebagai penari?
Saya belajar silat Bima, budaya Indonesia Mataram. Kebetulan di keluarga kami anak-anak laki-laki diwajibkan untuk ikut silat. Tapi pada saat yang sama entah kenapa kakek itu ingin cucu-cucunya juga ikut belajar menari. Walaupun yang berhasil cuma saya sekarang ya. Dari awal satu keluarga itu lelaki semua latihan, ya latihan menari, ya latihan silat. Tapi yang menjadi penari sungguhan cuma saya, tidak ada yang lain.
Saya pikir karena pada saat itu, tahun-tahun 80-an dan 90-an, konotasi tarimasih dianggap sesuatu yang dilakukan atau dikerjakan dan dipentaskan oleh perempuan. Saya masih merasa yakin saja kalau akhirnya tari dan silat itu saling berkaitan. Apalagi ketika saya masuk STSI, saya baru sadar ketika bertemu Pak Sardono dan tokoh tari yang lain.
Saya merasa profesi saya sekarang dengan latar belakang yang sama dari keluarga yang sama, bagaimana Mas Don juga belajar silat dari kecil. Akhirnya saya justru merasa beruntung karena dituntun di jalan yang benar. Dari silat yang sifatnya maskulin kemudian disinggungkan dengan sesuatu yang lebih feminin,lebih halus dan lebih terasa. Ini sebenarnya sebagai pondasi yang membuat saya yakin kalau tari memang pilihan saya.
Bisa diceritakan pengalaman menjadi penari latar di tur Madonna?
Saya rasa dari budaya yang bisa saya kenalkan dan tampilkan itulah yang pada akhirnya membawa saya dipilih di tur Madonna. Memang waktu itu saya menari memperagakan tarian Bali yang saya gabung dengan silat. Kemudian tarian Minang yang saya gabungkan dengan Halmahera Barat. Selanjutnya tarian Maluku yang saya gabungkan dengan tarian Aceh. Pada saat itu Madonna sangat mengakui bahwa Indonesia itu luar biasa keragaman keseniannya.
Audisi yang saya ikuti di Los Angeles (LA) itu pesertanya ada sepuluh ribuan. Yang dipilih cuma enam yang dari LA. Kemudian yang dari New York (NY) itu juga sekitar enam ribuan, dipilih cuma empat. Kemudian digabung dari LA enam dan dari NY empat. Ditambah untuk cadangan dua orang. Penari yang paspornya non-Amerika cuma saya.
Pengalaman itu pengalaman yang sangat berharga, sangat penting dalam karier dan hidup saya. Tapi saya harus melangkah maju. Mungkin dari situ saya justru bisa meneruskan dan membagikan pengalaman ini untuk teman-teman yang lain.
Apa kesibukan Mas Eko sekarang?
Saya baru mengeluarkan buku. Judulnya Ikat Kait Impulsif Sarira. Buku ini dari disertasi saya tentang tari kontemporer Indonesia. Di dalam kesimpulan di buku ini, saya menulis bahwa proses kreatif dari tari kontemporer Indonesia ada tiga: mengunjungi kembali, mempertanyakan kembali, dan menginterpretasi kembali tradisi kita.
Saya selalu bilang bahwa saya beruntung dalam hal tari tradisional, kita mempunyai seniman kontemporer. Kalau tidak, tarian tradisional itu hanya akan ada di museum, dan menjadi barang eksotis saja. Hanya akan dipuji, “Wah, cantik.” Lalu selesai begitu saja. Nah, tugas seniman tari kontemporer inilah yang menciptakan gagasan baru untuk menjembatani supaya tari tradisional kita tidak hanya dianggap sebagai barang eksotis melulu setiap saat.
1. Apa yang dimaksud dengan tari kontemporer? Apa perbedaannya dengan tari tradisional?
Tari kontemporer adalah jenis tarian yang mengeksplorasi dan menafsirkan kembali gerakan tari tradisional atau klasik dengan cara yang baru dan kreatif. Menurut Eko Supriyanto, proses kreatif tari kontemporer di Indonesia melibatkan "mengunjungi kembali, mempertanyakan kembali, dan menginterpretasi kembali tradisi kita."
Perbedaan utama antara tari kontemporer dan tari tradisional adalah:
Tari tradisional memiliki gerakan, pola, dan makna yang baku dan diwariskan secara turun-temurun. Tarian ini sering kali terkait erat dengan upacara adat, ritual, atau cerita rakyat.
Tari kontemporer, sebaliknya, tidak terikat pada aturan yang kaku. Tarian ini lebih bebas, inovatif, dan sering kali mencampurkan berbagai elemen dari berbagai genre, seperti yang dilakukan Eko Supriyanto saat menggabungkan tarian Bali dengan silat atau tarian Minang dengan tarian Halmahera Barat.
2. Apakah kalian setuju dengan anggapan bahwa menari hanya cocok dilakukan oleh perempuan?
Saya tidak setuju. Anggapan bahwa menari hanya cocok untuk perempuan adalah stereotip gender yang tidak relevan. Berdasarkan teks, Eko Supriyanto sendiri adalah seorang penari laki-laki yang sukses dan bahkan menggabungkan tarian dengan silat, yang secara tradisional dianggap maskulin. Eko juga menceritakan bagaimana ia dan seluruh anggota keluarga laki-lakinya berlatih menari dan silat, yang menunjukkan bahwa menari bisa dilakukan oleh siapa pun, terlepas dari jenis kelamin.
3. Eko Supriyanto terpilih sebagai penari latar Madonna melalui seleksi yang ketat. Ia menjadi satu-satunya orang asing yang terpilih. Apa yang dapat kalian pelajari dari hal ini?
Dari kisah Eko Supriyanto, kita bisa belajar bahwa keterampilan unik dan autentik bisa menjadi keunggulan yang luar biasa. Eko tidak sekadar meniru penari lain, tetapi ia membawa kekayaan budaya Indonesia ke panggung internasional. Ia menggabungkan tari-tarian tradisional Indonesia yang ia kuasai dengan elemen silat, menciptakan pertunjukan yang otentik dan memukau. Hal ini menunjukkan bahwa memiliki identitas yang kuat dan berani menampilkan keunikan diri bisa membuat kita menonjol di antara ribuan pesaing.
4. Mengapa Eko Supriyanto tidak ingin tarian tradisi kita hanya dianggap sebagai barang eksotis? Jelaskan dalam kata-kata kalian sendiri!
Eko Supriyanto tidak ingin tarian tradisional hanya dianggap "barang eksotis" karena jika hanya dilihat seperti itu, tarian tersebut akan kehilangan relevansinya dan hanya menjadi objek yang dikagumi sesaat. Ia khawatir jika tarian tradisional hanya disimpan di museum atau dipentaskan sebagai tontonan "cantik" tanpa ada upaya untuk mengembangkannya, tarian tersebut akan mati dan terlupakan. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa tugas seniman tari kontemporer adalah menjembatani masa lalu dengan masa kini, menciptakan gagasan baru yang membuat tarian tradisional tetap hidup dan relevan di era modern. Dengan kata lain, ia ingin tradisi menjadi sumber inspirasi untuk terus berkreasi, bukan hanya artefak masa lalu.
Berdasarkan teks "Panggung Dunia Eko Supriyanto", berikut adalah penjelasan untuk setiap kata yang mungkin jarang Kamu dengar, sesuai dengan konteks yang diberikan.
maskulin
Kata ini merujuk pada sifat atau ciri khas yang dianggap jantan atau laki-laki, seperti kuat, berani, atau tegas. Dalam teks, Eko Supriyanto mengaitkan silat dengan sifat yang maskulin.
barang eksotis
Ini adalah istilah untuk sesuatu yang dianggap unik, menarik, dan langka karena berasal dari budaya atau tempat yang jauh dan asing. Dalam teks, Eko tidak ingin tarian tradisional Indonesia hanya dianggap sebagai barang eksotis yang hanya dikagumi tanpa dikembangkan.
kontemporer
Kontemporer berarti sesuatu yang modern atau terjadi pada masa kini. Tari kontemporer adalah jenis tarian yang inovatif dan terus berkembang, sering kali mengambil inspirasi dari tari tradisional tetapi dengan interpretasi yang baru.
koreografer
Seorang koreografer adalah orang yang menciptakan atau menyusun gerakan-gerakan tarian. Eko Supriyanto adalah seorang koreografer untuk tarian pembuka ASEAN Games.
sanggar
Sanggar adalah tempat atau studio untuk belajar dan berlatih seni, seperti tari, musik, atau teater. Eko mendirikan Sanggar Pitaloka di Magelang.
penari latar
Penari latar adalah penari yang tampil di belakang atau bersama dengan penyanyi utama untuk melengkapi pertunjukan. Eko Supriyanto terkenal saat ia menjadi penari latar untuk Madonna.
motivasi
Motivasi adalah dorongan atau alasan yang membuat seseorang bersemangat untuk melakukan sesuatu. Eko mendapatkan motivasi dari guru-gurunya untuk terus menari.
konotasi
Konotasi adalah makna tambahan atau perasaan yang terkait dengan sebuah kata, di luar makna harfiahnya. Dalam teks, Eko menyebutkan bahwa pada tahun 80-an dan 90-an, konotasi tari masih dianggap sebagai kegiatan yang dilakukan oleh perempuan.
regenerasi
Regenerasi adalah proses pembaharuan atau pemulihan generasi berikutnya. Sanggar yang didirikan Eko tidak hanya melestarikan, tetapi juga mengajarkan regenerasi tarian.
cikal bakal
Cikal bakal merujuk pada asal mula, permulaan, atau inti dari sesuatu. Pendirian sanggar adalah cikal bakal yang membuat Eko memutuskan untuk terus berkarier di bidang tari.
feminin
Feminin adalah sifat yang dianggap khas perempuan, seperti lembut, halus, atau anggun. Eko menganggap tari memiliki sifat yang lebih feminin dan halus, yang melengkapi sifat maskulin dari silat.
Berikut adalah pasangan kata dan maknanya sesuai dengan konteks teks "Panggung Dunia Eko Supriyanto".
Orang yang ahli dalam mencipta dan menggubah gerak tari → C. Koreografer
Pada waktu yang sama; semasa; sewaktu; pada masa kini; dewasa ini → B. Kontemporer
Tempat untuk kegiatan seni (tari, lukis, dan sebagainya) → A. Sanggar
Memiliki daya tarik khas karena belum banyak dikenal, ganjil, aneh, bergaya asing → E. Barang Eksotis
Pembaruan, penggantian generasi tua kepada generasi muda; peremajaan → D. Regenerasi
Orang yang menari mendampingi penyanyi yang pentas di panggung → H. Penari latar
Karakter yang menunjukkan sifat keperempuanan → I. Feminin
Bersifat jantan → G. Maskulin
Tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata; makna yang ditambahkan pada makna denotasi → F. Konotasi
Dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. → J. Motivasi
Kesimpulan
Perjalanan Eko Supriyanto mengajarkan kita bahwa seni adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Melalui pendekatannya yang unik, Eko berhasil membuktikan bahwa tari tradisional tidak seharusnya menjadi "barang eksotis" yang hanya dipajang, melainkan harus terus hidup dan berkembang melalui interpretasi kontemporer. Dengan menggabungkan unsur tari tradisional, silat, dan seni modern, ia tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga menciptakan identitas baru yang relevan bagi generasi mendatang. Kisahnya adalah pengingat kuat bahwa keberanian untuk menampilkan keunikan diri dan mencintai akar budaya adalah kunci untuk meraih kesuksesan sejati di panggung dunia.
Post a Comment